AL-Quran adalah kalam Allah berupa mukjizat yang
diturunkan kepada nabi muhammad secara berangsur-angsur sebagai petunjuk bagi
umat manusia hingga akhir zaman, ditulis dalam mushaf diawali surat alfatihah
dan diakhiri dengan surat an-nas, diriwayatkan secara mutawattir, dan
membacanya termasuk ibadah. Pernahkah anda berfikir untuk mendekatkan diri kepada
Allah dengan Al-Quran? Ya, mungkin terselib dalam lubuk hati anda dan terbesit dalam fikiran anda sebelumnya. Seseorang
yang selalu berinteraksi dengan Al-Quran, yakni dengan mengimaninya, menerapkan
tajwid dan makhroj dalam membacanya, mendengarkan, menghafalkan, memahami
maknanya, ataupun mengamalkannya dengan menjadikannya sebagai pedoman dan
hujjah dalam kehidupannya, maka ia akan mendapatkan dan kemuliaan disisi Allah
baik di dunia maupun diakhirat. Al-Quran
sudah tidak sulit lagi untuk dicari dalam kehidupan sekarang. Bahkan sudah dapat dipermudah dengan tanda bacaan-bacaan
yang harus dibaca panjang, pendek, dan juga pelafalannya yang
benar atau biasa disebut dengan tajwidnya. Berbeda dengan kehidupan dahulu yang
lebih banyak orang menghafalkan Al-Quran agar lebih dekat dengan yang
maha pencipta dan dapat selalu mengingat tanpa melihat. Karena, tidak ada Al-Quran yang mudah dibaca dibandingkan dengan kehidupan sekarang. Pada saat itu
Al-Quran pun masih berbentuk mushaf atau lembaran-lembaran, bukan dibukukan atau terkumpul seperti
Al-Quran sekarang.
pernah seorang raja yang menyuruh budaknya untuk mengirimkan
surat kepada raja lain denganاىاك ىعىد واىاك ىسىعىن . Dalam Al-Quran surat Alfatihah ayat 4 yang
berbunyi اِيّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْن namun
apakah seorang raja mengirimkan tulisan seperti itu kepada raja yang lain?
Jawabannya adalah tidak. Karena memang tulisan tersebut adalah ayat Al-Quran.
Raja tersebut mengirimkan pesan اَتَاكَ بِعَبدٍ وَاَتَاكَ
بِسَبعِيْنyang artinya aku mengirimkan seorang budak kepadamu dengan
membawakan 70 dirham uang. Namun dalam kisah tersebut seorang budak itu telah
mengambil uang yang seharusnya bukan miliknya lalu dia mendapat hukuman mati
karena perbuatan itu. Cerita ini hanya sebatas pengetahuan tentang pelafalan
yang mungkin akan berbeda satu sama lain dalam pengartiannya.
Pada masa pemerintahan Abu Bakar, saat perang yamamah
yaitu perang yang melawan nabi palsu Musailamah Alkahzab dimana kehidupan itu
banyak para penghafal Al-Quran wafat. Umar Bin Khattab khawatir jika para
penghafal banyak yang wafat maka Al-Quran tidak bisa diwariskan dan di
lanjutkan pada generasi selanjutnya. Maka Umar Bin Khttab mengajukan usul untuk
pembukuan Al-Quran dalam satu kitab, dengan mengusulkan Zaid bin Tsabit untuk
menjadi koordinator penulisan pembukuan Al-Quran. Karena dirasa Zaidlah yang
mempunyai bacaan bagus dalam Al-Quran dan menghafal semua ayat Al-Quran. Tentang
penulisan harokat dalam ayat Al-Quran pada saat dibukukannya Al-Quran belum
terdapat harokat sampai dengan pada zaman khalifah Utsman. Menurut penjelasan
Dr. Abdullah bin Muhammad al-Muthlaq.
Pertamatitik
yang membedakan antara satu huruf dengan yang lainnya seperti ت ن ي ب ث
ق ف غ ض
ش ض ظ ز
dan yang lainnya kita sebagai pembaca dapat mengetahui dan membaca
bacaan dengan mudah dari titik titik tersebut. Titik-titik ini diberi dan
diapaki pada zaman tabiin. Kedua harokat dan tanwin, yang pertama kali
memberi harokat dan tanwin dalam kalimat bahasa arab adalah Abul Aswad ad-Duali
yang beliau tuliskan ketika beliau menulis buku tentang belajar bahasa arab
untuk meluruskan penulisan dan pelafalan dalam masyarakat. Ada juga yang orang
yang pertama memberi harokat dan tanwin adalah Nashr bin Ash Al-Laith. Ketiga
hamzah, tasydid, raum, isymam. Pertama kali yang meletakkannya adlah Kholil
bin Ahmad Al-Farahidi. Keempat tanda-tanda tajwid, tanda washol, atau
waqof. Semua ini tidak ada dalam naskah mushaf usmani. Baru dibubuhkan dalam Al-Quran
setelah adanya ilmu tajwid.
Apapun yang kita baca dalam bentuk bahasa arab sudah
dapat dibaca dengan mudah tanpa harus dikira-kirakan pembacaannya kembali.
0 komentar:
Posting Komentar